Wednesday, 16 October 2019

2 Macam Pembagian Malu dan Dalil-Dalilnya

2 Macam Pembagian Malu dan Dalil-Dalilnya- Sifat malu adalah salah satu sifat yang di miliki oleh setiap insan khususnya ummat Islam, Dan sifat malu pada dasar nya adalah sifat yang terpuji, Hal ini sebagaimana di katakan oleh Al Imam Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari : 

 الحَياء: خُلُق يبعث صاحبه على اجتناب القبيح

"Malu adalah salah satu akhlak yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan yang tercela."

Ada sebuah hadist yang telah riwayatkan oleh Al Imam Muslim dari sahabat Abdulloh bin Umar Ra beliau berkata : 

 سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ

Nabi Muhammad SAW telah mendengar seorang laki-laki menasihati saudaranya tentang sifat malu, maka beliau pun bersabda: "Malu itu adalah sebagian dari iman."

2 Macam Pembagian Malu dan Dalil-Dalilnya


  Dan malu itu terbagi menjadi 2 : 

1- Malu itu terpuji. 
2- Malu itu tercela.

Yang Pertama :

Malu itu terpuji adalah sifat malu dalam melakukan perbuatan perbuatan yang tidak terpuji seperti halnya dalam melakukan sesuatu yang di larang dalam syariat Islam. 

Dan sifat malu yang seperti ini adalah sifat malu yang bagian dari Iman, sebagaimana di dalam hadist Rosululloh SAW bersabda :

الإيمانُ بِضعٌ وستونَ شُعبةً ، والحَياءُ شُعبةٌ منَ الإيمانِ. رواه البخاري 

"Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman”
HR. Imam Bukhori 

Sifat malu adalah ajaran para nabi nabi sebelum Nabi Muhammad SAW,sebagaimana di sampaikan dalam sebuah hadist : 

إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى : إذا لم تستح فاصنع ما شئت. رواه البخاري 

"Sesungguhnya diantara hal yang sudah diketahui manusia yang merupakan perkataan para Nabi terdahulu adalah perkataan: ‘jika engkau tidak punya malu, lakukanlah sesukamu’'.
HR. Imam Bukhori 

Dalam hadist ini teramatlah jelas,bahwa ketika seseorang tidak memiliki sifat malu mereka layaknya seperti hewan tidak dapat membedakan (antara haq & bathil) dan tidak malu dalam melakukan sesuatu yang di larang oleh Alloh SWT. 

Rosululloh SAW menyampaikan dalam hadistnya yang telah diriwayatkan oleh Al Imam Bukhori & Imam Muslim dari Sahabat Imron bin Hushoinin Ra : 

الحياءُ لا يأتي إلَّا بخيرٍ. متفق عليه 

“Malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan”

Dan Sahabat Imran bin Hushain mengatakan akan sifat pemalu Rosululloh SAW : 

كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أشَدَّ حَياءً مِن العَذْراءِ في خِدْرِها

"Nabi Muhammad SAW adalah orang yang lebih pemalu daripada para gadis perawan dalam pingitannya”. 
HR. Imam Bukhori. 

Al Imam Fudhail bin Iyadh Ra mengatakan : 

خمسة من علامة الشقاء : قسوة القلب، وجمود العين، وقلة الحياء، والرغبة في الدنيا، وطول الأمل. 

"Ada lima tanda-tanda kesengsaraan: hati yang keras, mata yang sulit menangis (karena Allah), sedikit rasa malu, cinta kepada dunia dan panjang angan-angan."

Yang kedua :

Sifat malu itu terpuji, namun malu bisa menjadi tercela jika ia menghalangi seseorang untuk mendapatkan ilmu agama atau melakukan sesuatu yang benar dan malu melakukan aktifitas   ibadah. 

Sebagaimana di katakan oleh Al Imam Mujahid di dalam kitab syarah hadist Shohih Bukhori : 

لا ينال العلم مستحى و لا مستكبر

“Tidaklah bisa mengambil ilmu orang yang malu dan sombong“

Bahkan ada salah satu Sahabat Nabi Muhammad SAW bertanya kepada beliau tentang berhubungan suami Isteri,sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah Ra : 

إن رجلًا سأل رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم عن الرجلِ يُجامِعُ أهلَه ثم يَكْسَلُ . هل عليهما الغُسْلُ ؟ وعائشةُ جالسةٌ . فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم إني لَأَفْعَلُ ذلك . أنا وهذه . ثم نغتسلُ

"Ada seorang lelaki bertanya kepada Rasululloh SAW tentang seorang yang lain, yang ia berjima’ dengan istrinya lalu mengeluarkan mani di luar (‘azl), “apakah ia wajib mandi?”, tanyanya. Ketika itu ‘Aisyah duduk di samping Rasulullah. Rasululloh SAW menjawab, ‘sungguh aku melakukan itu, aku dan wanita ini (‘Aisyah). Lalu kami mandi‘'.
HR. Imam Muslim

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ وَاْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَخَرُ

“Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.”
HR. Imam Hakim. 

Catatan dari Saya :

Tempatkalah rasa MALU mu itu dalam tempat yang semestinya, seperti MALU dalam melakukan kemaksiatan kepada Alloh SWT, bukan MALU dalam melakukan aktifitas yang terpuji terutama dalam melakukan aktifitas ibadah kepada Alloh SWT. 

Wallohul Mustaan 

Surabaya 15 Oktober 2019
Jam 23.10 WIB

Oleh: Ust. M. Zakaria Al Anshori 
Refrensi :

١- فتح الباري بشرح صحيح البخاري للامام ابن حجر العسقلاني. 
٢-المنهاج بشرح صحيح مسلم للامام النووي. 
٣-الجواهر الؤلؤية بشرح الأربعين النووية للامام محمد بن عبد الله الجرداني. 
٤-فقه السنة النبوية من العهود المحمدية للامام الشيخ أسعد محمد سعيد الصاغرجي. 
٥-المستدرك على الصحيحين للامام الحاكم

Saturday, 5 October 2019

Curhatan K-Pop Lovers: Saat Wabah Negeri Gingseng Merambat dan Terelakkan

Aku adalah seorang muslimah yang polos dan taat, DULU. Sebelum seorang teman mengenalkanku pada dunia lain yang ku anggap sangat indah. Sekarang aku telah bertransformasi menjadi seorang hipster pecinta Korea atau yang populer disebut K-POP Lovers. Pesona Negeri Gingseng itu sangat menyilaukan mataku, Hingga suatu hari aku menyadari suatu perubahan terjadi pada diriku.
Kini,
Hijrah dari Kpop

Tak ada lagi Qur’an untuk dibaca melainkan novel korea yang selalu dibawa kemana-mana.

Tak ada lagi surat/ayat untuk dihafal melainkan lagu korea yang tanpa sadari sudah ku hafal. 

Tak ada lagi dzikir untuk senantiasa diucapkan melainkan lagu korea yang selalu asyik untuk didendangkan.
Tak ada lagi ilmu untuk dibahas melainkan Dra-kor yang tak ada habisnya untuk diperbincangkan.

Tak ada lagi tasbih yang terucap saat melihat kebaikan melainkan kalimat “Daebak” yang telah spontan ku ucapkan.
Tak ada lagi Masya Allah saat meliihat keburukan melainkan kalimat “Aigoo” yang selau terlebih dahulu kuucapkan.
Aku Tak lagi sabar duduk berlama-lama diatas sajadah, tapi pergantian siang dan malam terlalu cepat untukku menghabiskan semua episode drama koreaku.

Salat terasa sangat enggan untuk dilakukan, melelahkan, tapi untuk dance korea dari gaya Beng-beng, Fire Hingga gaya tebaru G-Friend aku sangat bersemangat untuk melakukannya dan sama sekali tidak melelahkan.
Mata ini terlalu mengantuk untuk belajar tapi mata ini sangat tak rela untuk berkedip dan meninggalkan satu kata pun dalam plot film Korea.

Tahun ini aku sama sekali belum khatam Al-Qur’an, Tapi kurang lebih 8/9 Novel Korea sudah habis aku khatamkan.
Aku tak menganal siapa Khalid Bin Walid , Amru Bin ‘Ash ataupun Hafsah Binti Umar Tapi untuk Ji Chang Wook, Lee Min Hoo dan Yoona, jangankan siapa mereka, aktivitas mereka sekarang hingga tanggal lahir mreka pun aku tahu.

Aku juga tak tau tentang kisah-kisah 
peradaban islam, penulisan pertama Al-Qur’an, penaklukan mesir, ataupun kejayaan Harun Arrasyid aku tak tau, Tapi untuk Dra-kor, Tanyakan padaku apa yang ingin kau ketahui tentangnya.
Iman terasa semakin berkurang sedangkan kecintaan pada dunia semakiin bertambah, akankah terus begini ???

Lagu-lagu korea itu selalu aku dendangkan, hal-hal yang bersangkutan dengan semua itu juga selalu mengitari pikiranku, Hati ini sudah terlalu mencintainya. 

Suatu hari aku sedang mendengarkan lagu korea, lisan ini turut menyanyikannya, seketika aku berfikir, jika saat itu nafasku berhenti berhembus , akankah kalimat yang terakhir kuucap dan kudengar adalah “sarangheo” dan bukan “Laa Ilaaha Illa Allah” ???

Lalu kesaksian apakah yang akan diberikan raga ini? Akankah ia mengaku bahwa pemiliknya tak menggunakannya sebagaimana mestinya?  Apakah lisan akan bersaksi bahwa ia sangat hobi bernyanyi lagu korea? apakah telinga akan bersaksi bahwa ia selalu mendengar lagu korea? dan apakah mata akan bersaksi bahwa ia selau menonton film korea pagi dan malam? dan apakah hati akan bersaksi bahwa ia tak lagi mencintai tuhan dan rasulnya dengan sempurna? Apakah semua ini telah menyimpang dari alasan dan tujuan utama sebuah penciptaan? Bukankah aku diciptakan tidak lain hanya untuk beribadah? Bagaimana jika aku mati dan menyesalinya sebelum aku bertobat? 

Kawan... untuk berubah memanglah sukar dan tidak mudah, terlebih lagi jika kita sudah terlalu jauh melangkah. Namun akankah kita membiarkan semuanya dan enggan untuk berubah? apakah kiita lupa atau pura-pura lupa akan tujuan utama adanya kita disini? Allah telah berfirman dalam Qur’an bahwasanya “Tidaklah jin dan manusia diciptakan melainkan hanya untuk ibadah”. itulah tujuan utama keberadaan kita disini. Kematian adalah hal yang pasti dan tak akan ada yang bisa menghindarinya. Bagaimana jika ia datang sedangkan kita belum sampai pada tujuan hidup ini? Kematian bukanlah hal yang bisa ditunda atau sebaliknya, karna itu sudah menjadi kewajiban kita untuk senantiasa berbuat baik agar manakala kematian datang menghampiri kita, kita telah siap dan mengakhiri hidup ini dengan senyuman kebahagian bukan tangis penyesalan. 



-Hwd, 28 Feb 18-

Sunday, 25 August 2019

3 Rahasia Lulus Tes Seleksi Universitas al-Azhar Kairo

Cara agar lulus tes seleksi universitas al-Azhar---Al-Azhar adalah salah satu universitas yang menjadi idola bagi semua umat Islam di dunia bahkan selain umat Islam. Banyak dari mereka yang punya angan-angan kuliah di sana termasuk saya dan temen-temen saya. Dari semua alumninya banyak yang menjadi panutan umat, baik di seluruh dunia seperti syaik Zakariya al-Ansori dan lebih banyak lagi yang lain, dan menjadi panutan di indonisa  seperti ustadz Abdus somad dan ustadz Zainuddin majdi atau lebih kenal dengan sebuta TGB.

Al-Azhar termasuk universitas yang sudah sangat lama dan terus eksis  hingga hari ini. Yang belajar di sana dari seluruh penjuru dunia bahkan juga dari indonesia. Al-Azhar pun juga menjadi pusat dari ilmu agama di dunia.

Untuk melanjutkan studi di sana tentunya harus lulus dulu tes di kemenag bagi selain yang ikut program tes biasiswa kesana dari berbagai tempat dan itu sangat mudah sebagaimana yang telah kami alami pribadi. Dan tentunya ada tes yang perlu di taklukkan  terlebih dahulu.

3 Rahasia Lulus Tes Seleksi Universitas al-Azhar Kairo

Adapun cara yang mudah untuk menaklukkan tes ke al-Azhar ada beberapa cara, antara lain sebagai berikut:

1. Harus di penuhi dengan percaya diri sebelum tes, sebab tes yang mudah jika tidak ada percaya diri maka akan berbalik menjadi sulit, kalaupun mudah dan dia bisa tapi akan gemeter dan akan mengurangi kepercayaan dari jurinya. Hal ini terbukti dari pengalaman teman saya, dia sangat pintar dan tergolong orang yang bisa tapi sayang kurang percaya diri maka hasilnya nihil dan dia di nyatakan tidak lulus.

2. Harus menyiapkan materi yang akan di teskan. Dalam tes ke al-Azhar tidak akan ada materi yang jelas dari kemenag, tapi biasanya materi tes itu tidak akan jauh dari materi tes pada tahun sebelumnya. Maka yang perlu di siapkan dengan matang dan benar adalah menyiapkan soal-soal pada tahun-tahun sebelumnya, dengan cara menanyakan pada mahasiswa yang sudah di sana atau anak yang pernah tes di tahun sebelumnya. Sebenarnya kesiapan diri dengan materi tes tidak harus menghafal materinya, tapi mengetahui karakter dari soalan tahun sebelumnya bahkan dengan cara membaca aja udah cukup, hanya saja ada sedikit dari soalan itu yang harus di hafal dengan mateng dan benar.

3. Ikut pembinaan bagi yang tidak pernah mengemban pendidikan diniyah atau pernah sekolah diniyah tapi belum bisa bahasa arab. Biasanya banyak dari berbagai trevel yang mengadakan bimbingan untuk calon mahasiswa, bagi yang betul-betul ingin ingin tes, bisa ikut dan mempelajari bahasa arab dan karakter soal di sana.

Oleh: Sholihin Amin (Penerima Beasiswa al-Azhar jalur PBNU 2019)  

Wednesday, 14 August 2019

Cara Mengetahui Surat Makkiyah dan Madaniyah Memakai Teori Ulum al-Qur'an

Cara Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah- ada dua metode pokok yang dijadikan para ulama untuk mengetahui Makkiyah dan Madaniyah. Pertama, Metode Sama'i al-Naqli. Kedua,  Metode Qiyasi Ijtihadi. Adapun pemerinciannya sebagai berikut:

Cara Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah


Metode Sama'i al-Naqli 

Metode Sama'i al-Naqli adalah metode utama dan bahkan terbanyak dalam menginformasikan status Makkiyah dan Madaniyah. Rujukan metode ini adalah riwayat shahih dari para sahabat selaku orang yang menyaksikan sendiri proses turunnya Alquran dan para tabiin yang mengutip dari para sahabat. Bahkan metode ini lebih akurat ketimbang metode Qiyasi Ijtihadi. Sebab, metode ini mengacu pada informasi resmi dari para saksi sejarah. 
Metode Qiyasi Ijtihadi 

Metode Qiyasi adalah metode yang mengacu pada ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh masing-masing karakter; Makkiyah dan Madaniyah. Jika ayat itu berbicara tentang seruan pada pengEsaan, cerita para Nabi terdahulu dan segala apa yang yang menjadi ciri dari Makkiyah maka ayat tersebut diklaim sebagai ayat Makkiyah, meskipun tidak ada penjelasan langsung dari para Sahabat Nabi, selaku saksi sejarah. 

Tuesday, 30 July 2019

Pengertian I'jaz Ilmi dan Contohnya, Lengkap!

Pengertian I'jaz Ilmi dan Contohnya,  Lengkap! - Di samping I'jaz Lughowi dan I'jaz Tasyri'i, Alquran juga memiliki i'jaz al-Ilmi. Di mana ayat-ayat Alquran memberikan legitimasi terhadap teori-teori ilmuan modern karena memang Alquran terkadang berbicara tentang alam semesta. 

Salah satu teori ilmiah yang ternyata telah disinyalir oleh Alquran semenjak 1400 tahun yang silam adalah teori Big Bang. Di mana teori ini menegaskan bahwa eksistensi alam semesta ini berawal dari ledakan besar (Big Bang) lalu lambat laun terbentuk cakrawala seperti saat ini. Di dalam Alquran, peristiwa ini telah disebutkan, yaitu:

(أَوَلَمۡ یَرَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوۤا۟ أَنَّ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقࣰا فَفَتَقۡنَـٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَاۤءِ كُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّۚ أَفَلَا یُؤۡمِنُونَ)
[Surat Al-Anbiya' 30]

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
Ayat ini telah disampaikan jauh sebelum teori Big Bang muncul ke permukaan. Di mana, pada saat itu masih belum ditemukan alat teknologi yang mampu mengungkap awal proses penciptaan manusia. Namun, Alquran selaku pesan Tuhan menyampaikan hal itu kepada manusia. 

Pengertian I'jaz Ilmi dan Contohnya,  Lengkap!

Begitu juga, temuan modern tentang tidak adanya oksigen di luar angkasa juga telah disinyalir oleh Alquran surat al-An'am ayat 125 yang berbunyi:

(فَمَن یُرِدِ ٱللَّهُ أَن یَهۡدِیَهُۥ یَشۡرَحۡ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِۖ وَمَن یُرِدۡ أَن یُضِلَّهُۥ یَجۡعَلۡ صَدۡرَهُۥ ضَیِّقًا حَرَجࣰا كَأَنَّمَا یَصَّعَّدُ فِی ٱلسَّمَاۤءِۚ كَذَ ٰ⁠لِكَ یَجۡعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجۡسَ عَلَى ٱلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ)
[Surat Al-An'am 125]

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Kata-kata "niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit" ini secara eksplisit menjelaskan bahwa kondisi luar angkasa kosong kurang dari oksigen. Kondisi semacam itu kemudian dijadikan sebagai perumpamaan bagi mereka yang dikehendaki sesat oleh Allah SWT. 

Thursday, 4 July 2019

Cara Memahami Ayat Mutasyabihat Menurut Ahlusunnah Wal Jamaah

Takwil dan Tafwidh: 2 Cara Memahami Ayat Mutasyabihat Menurut Ahlusunnah Wal Jamaah- Di dalam Alquran ada dua jenis ayat yang disebutkan oleh Allah, mulai dari Surat al-Fatihah hingga surat al-Nas, yaitu Ayat Mutasyabihat dan Ayat Muhkamat. Hal ini sudah ditegaskan langsung oleh Allah SWT sebagaimana dalam surat Ali Imron ayat 7 yang berbunyi:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Takwil dan Tafwidh: 2 Cara Memahami Ayat Mutasyabihat Menurut Ahlusunnah Wal Jamaah

Sebetulnya,  ayat mutasyabihat tidak hanya terdapat pada Alquran, ia juga terdapat pada Hadis. Banyak sekali hadis-hadis yang masih remang (ambigu), tidak jelas layaknya ayat mutasyabihat dalam Alquran. Hanya saja,  yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana konsep atau cara Ahlusunnah wal jamaah memahami ayat-ayat mutasyabihat yang sangat samar itu? Apakah harus diartikan secara literal seperti kelompok pengikut Muhammad bin Abdul Wahab (Salafi-Wahabi) atau ada pendekatan lain? 

Secara garis besar, ada dua metode yang diakui Ahlsunnah wal jamaah dalam tata cara memahami ayat atau hadis mutasyabihat, Pertama, Tafwidh adalah memasrahkan sepenuhnya pemahaman ayat mutasyabihat kepada Allah. Ia tidak mau mengartikan apalagi memahami, ia hanya beriman bahwa semua itu datang dari Allah dan pasti benar. Adapun pemahamannya hanya Allah yang tau. Kedua, Takwil. Takwil adalah mengarahkan makna rajih (unggul) kepada makna marjuh (yang diungguli) karena ada dalil yang melatarbelakangi. 

Metode takwil bermuara pada konsep mengembalikan pemahaman ayat mutasyabihat pada pemahaman ayat muhkamat. Artinya,  pemahaman ayat muhkamat yang sudah sangat jelas menjadi acuan dalam memahami ayat mutasyabihat. Oleh karena itu, jika ada ayat mutasyabihat yang secara sepintas tidak sejalan dengan ayat muhkamat maka ayat mutasyabihat itu harus tunduk patuh pada ayat muhkamat dengan melakukan takwil. 

Contoh paling gampang memahami keharusan sebuah takwil sebagai solusi memahami ayat mutasyabihat seperti ayat tentang istiwa'. Sekilas, ayat Istiwa Arrahmanu ala 'Arsy Istawa mengesankan Allah sedang duduk duduk di atas Arys. Namun, dalam Ayat lain disebutkan bahwa Allah ada di mana-mana, Sebagaimana ayat wahuwa ma' akum ainama kuntum. Nah,  yang menjadi pertanyaan besar adalah mana yang benar?  Jika mengikuti ayat Istawa berarti Allah hanya ada di Asry, tapi ayat kedua menyebutkan Allah ada di mana-mana. 

Atas dasar kerancuan semacam ini lah kemudian para ulama melakukan pendekatan takwil agar tidak terjadi kontradiksi antar satu ayat dengan ayat lain.  Semoga bermanfaat. 

Monday, 25 March 2019

Cadar, Budaya Arab atau Wahyu Tuhan?


Cadar, Budaya Arab atau Wahyu Tuhan?Diskursus seputar "cadar" kembali mencuat ke permukaan global semenjak kasus pelarangan cadar oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga terhadap para mahasiswinya. Dalam kasus itu, tampil sosok  agamis yang cukup berpengaruh dan memangku jabatan tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama, lalu dengan lantang menyuarakan bahwa cadar bukan ibadah, bukan pula perintah Agama, cadar tak lebih sekadar fenomena budaya.

Memang, semenjak kepemimpinannya, Nahdhatul Ulama mengalami banyak penyelewengan dan semua fatwa-fatwanya terkesan selalu butuh klarifikasi. Termasuk soal cadar. Tampak sekali, ketinggian ilmunya tak diimbangi dengan nuansa sufistik, sehingga keberadaannya hanya menjadi benalu bagi umat Islam, khususnya warga Nahdhatul Ulama.

Cadar, Budaya Arab atau Wahyu Tuhan?

Menyikapi wacana ini, sebenarnya kita harus mengurai benang historis "cadar" dalam budaya Arab terlebih dahulu. Mengingat, cadar selalu dikait-kaitkan dengannya. Jika kita mau bijak dengan mengaca pada sejarah, potret busana masyarakat Arab pra Islam lebih mirip dengan apa yang kita lihat di Barat saat ini. Mereka tak berbusana layaknya hewan yang tak tau malu, terlebih saat menyembah berhala. Setelah Islam datang, tradisi-tradisi semacam itu dihapus dan diganti dengan tradisi Islam yang bersumber dari wahyu. Hal ini ditandai dengan turunnya ayat hijab kepada umat Islam sebagai respon atas fenomena budaya yang tak terhormat itu.

Tradisi cadar semacam itu terus dijaga dan dirawat oleh umat Islam, bahkan hal itu berlangsung hingga akhir dinasti Usmani. Dan mereka lakukan semua itu atas dasar perintah Agama, bukan karena mengikuti trend budaya yang sedang berkembang.

Oleh karena itu, sangat tidak pas dan terkesan buta sejarah jika harus menganggap cadar sebagai budaya Arab yang tak layak digandrungi oleh masyarakat Islam di bumi Nusantara ini. Lebih-lebih menganggap hal itu bukan perintah Agama.

Referensi:

1. Tsarina Maharani dan Samsdhuha Wildansyah, Ketum PBNU: Cadar Bud2aya Arab, Bukan Perintah Agama, diakses dari https://m.detik.com/news/berita/d-3907550/ketum-pbnu-cadar-budaya-arab-bukan-perintah-agama pada Jumat, 15 Maret 2019.
2. Fakhruddin al-Razi, Mafatihul Ghaib, ( Beirut: Dari al-Fikr), 25/231.
3. Muhammad Zahid al-Kautsari, Maqalat al-Kautsari, (Kairo: Maktabah at-Taufiqiyah, t.t.), 232.

Saturday, 23 February 2019

Zina Muhsan, Begini Hukumannya!

Zina Muhsan, Begini Hukumannya! - Zina merupakan tindakan yang dilarang dalam Islam, bahkan termasuk jejeran maksiat kelas elit (Akbarul kabair) yang harus dijahui oleh setiap Muslim. Sebuah kemaksiatan yang diancam dengan hukuman terberat kelak nanti di akhirat.

Zina akan membawa petaka, tidak hanya bagi para pelakunya yang akan tercoreng dan cenderung dimarginanlkan di tengah-tengah masyarakat, keturunannya pun akan terkena imbas dari perbuatan yang tak pernah ia lakukan. Kenikmatan yang hanya terasa sesaat itu mampu menghilangkan harapan yang selama ini diimpikan. Dunia serasa hampa, tak ada sesuatu yang bisa diharapkan.

Zina Muhsan, Begini Hukumannya!

Allah selalu mewanti-wanti umat manusia agar tidak terjerumus dalam lembah perzinahan, mendekat pun tidak boleh. Allah berfirman dalam Surat al-Isra' ayat 32:

(وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا)

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Dalam ayat ini, Allah melarang umat Islam untuk mendekat pada hal-hal yang mengantarkan pada perzinahan, seperti khalwat, pegangan tangan dll. Sebab, Allah mengetahui bahwa ketika anak Adam sudah mulai terjerat dalam indahnya perantara zina niscaya ia akan terbuai dan akan terus mengikuti hawa nafsunya sehingga ia terjatuh dalam kegelapan zina.

Dalam literatur kajian keislaman, khususnya ilmu fikih, zina dengan meninjau pelakunya terbagi menjadi dua bagian. Pertama, zina muhsan. Kedua, zina ghairu muhsan. Zina muhsan adalah tindakan perzinahan yang dilakukan oleh mereka yang pernah berhubungan intim dalam bingkai pernikahan yang sah. Kebalikan dari hal itu adalah zina ghairu muhsan.

Hukuman bagi zina muhsan lebih berat ketimbang hukuman bagi zina ghairu muhshon. Jika zina ghairu muhsan dihukum dengan cara dicambuk  100 kali dan diasingkan ke tempat yang jauh (seukuran jarak yang bisa dibuat qoshor sholat) maka pelaku zina muhsan harus dirajam sampai mati. Hal ini mengacu pada sebuah ayat yang telah dinasakh bacaannya namun tidak dinasakh hukumnya, yaitu:

الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة نكالاً من الله والله عزيز حكيم»

Ayat di atas tidak termaktub dalam al-Quran (mansukh tilawah) namun kandungan hukumnya tetap dijalankan dalam Islam. Sehingga, meskipun tidak ada ayat rajam dalam al-Quran, para pelaku zina muhsan harus tetap dirajam. Karena yang dinasakh hanya bacaannya saja, tidak pada hukumnya.


Adapun yang dimaksud rajam dalam hal ini adalah mengubur para pelaku zina hingga kepala yang tersisa (tidak terkubur) lalu dilempar dengan batu dengan ukuran sedang (tidak besar tidak pula kecil) sampai meninggal. Tindakan rajam ini hanya berhak dilakukan oleh pemerintah setempat. Semoga bermanfaat!!



Referensi: Sullam at-Taufik