Sunday, 25 August 2019

3 Rahasia Lulus Tes Seleksi Universitas al-Azhar Kairo

Cara agar lulus tes seleksi universitas al-Azhar---Al-Azhar adalah salah satu universitas yang menjadi idola bagi semua umat Islam di dunia bahkan selain umat Islam. Banyak dari mereka yang punya angan-angan kuliah di sana termasuk saya dan temen-temen saya. Dari semua alumninya banyak yang menjadi panutan umat, baik di seluruh dunia seperti syaik Zakariya al-Ansori dan lebih banyak lagi yang lain, dan menjadi panutan di indonisa  seperti ustadz Abdus somad dan ustadz Zainuddin majdi atau lebih kenal dengan sebuta TGB.

Al-Azhar termasuk universitas yang sudah sangat lama dan terus eksis  hingga hari ini. Yang belajar di sana dari seluruh penjuru dunia bahkan juga dari indonesia. Al-Azhar pun juga menjadi pusat dari ilmu agama di dunia.

Untuk melanjutkan studi di sana tentunya harus lulus dulu tes di kemenag bagi selain yang ikut program tes biasiswa kesana dari berbagai tempat dan itu sangat mudah sebagaimana yang telah kami alami pribadi. Dan tentunya ada tes yang perlu di taklukkan  terlebih dahulu.

3 Rahasia Lulus Tes Seleksi Universitas al-Azhar Kairo

Adapun cara yang mudah untuk menaklukkan tes ke al-Azhar ada beberapa cara, antara lain sebagai berikut:

1. Harus di penuhi dengan percaya diri sebelum tes, sebab tes yang mudah jika tidak ada percaya diri maka akan berbalik menjadi sulit, kalaupun mudah dan dia bisa tapi akan gemeter dan akan mengurangi kepercayaan dari jurinya. Hal ini terbukti dari pengalaman teman saya, dia sangat pintar dan tergolong orang yang bisa tapi sayang kurang percaya diri maka hasilnya nihil dan dia di nyatakan tidak lulus.

2. Harus menyiapkan materi yang akan di teskan. Dalam tes ke al-Azhar tidak akan ada materi yang jelas dari kemenag, tapi biasanya materi tes itu tidak akan jauh dari materi tes pada tahun sebelumnya. Maka yang perlu di siapkan dengan matang dan benar adalah menyiapkan soal-soal pada tahun-tahun sebelumnya, dengan cara menanyakan pada mahasiswa yang sudah di sana atau anak yang pernah tes di tahun sebelumnya. Sebenarnya kesiapan diri dengan materi tes tidak harus menghafal materinya, tapi mengetahui karakter dari soalan tahun sebelumnya bahkan dengan cara membaca aja udah cukup, hanya saja ada sedikit dari soalan itu yang harus di hafal dengan mateng dan benar.

3. Ikut pembinaan bagi yang tidak pernah mengemban pendidikan diniyah atau pernah sekolah diniyah tapi belum bisa bahasa arab. Biasanya banyak dari berbagai trevel yang mengadakan bimbingan untuk calon mahasiswa, bagi yang betul-betul ingin ingin tes, bisa ikut dan mempelajari bahasa arab dan karakter soal di sana.

Oleh: Sholihin Amin (Penerima Beasiswa al-Azhar jalur PBNU 2019)  

Wednesday, 14 August 2019

Cara Mengetahui Surat Makkiyah dan Madaniyah Memakai Teori Ulum al-Qur'an

Cara Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah- ada dua metode pokok yang dijadikan para ulama untuk mengetahui Makkiyah dan Madaniyah. Pertama, Metode Sama'i al-Naqli. Kedua,  Metode Qiyasi Ijtihadi. Adapun pemerinciannya sebagai berikut:

Cara Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah


Metode Sama'i al-Naqli 

Metode Sama'i al-Naqli adalah metode utama dan bahkan terbanyak dalam menginformasikan status Makkiyah dan Madaniyah. Rujukan metode ini adalah riwayat shahih dari para sahabat selaku orang yang menyaksikan sendiri proses turunnya Alquran dan para tabiin yang mengutip dari para sahabat. Bahkan metode ini lebih akurat ketimbang metode Qiyasi Ijtihadi. Sebab, metode ini mengacu pada informasi resmi dari para saksi sejarah. 
Metode Qiyasi Ijtihadi 

Metode Qiyasi adalah metode yang mengacu pada ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh masing-masing karakter; Makkiyah dan Madaniyah. Jika ayat itu berbicara tentang seruan pada pengEsaan, cerita para Nabi terdahulu dan segala apa yang yang menjadi ciri dari Makkiyah maka ayat tersebut diklaim sebagai ayat Makkiyah, meskipun tidak ada penjelasan langsung dari para Sahabat Nabi, selaku saksi sejarah. 

Tuesday, 30 July 2019

Pengertian I'jaz Ilmi dan Contohnya, Lengkap!

Pengertian I'jaz Ilmi dan Contohnya,  Lengkap! - Di samping I'jaz Lughowi dan I'jaz Tasyri'i, Alquran juga memiliki i'jaz al-Ilmi. Di mana ayat-ayat Alquran memberikan legitimasi terhadap teori-teori ilmuan modern karena memang Alquran terkadang berbicara tentang alam semesta. 

Salah satu teori ilmiah yang ternyata telah disinyalir oleh Alquran semenjak 1400 tahun yang silam adalah teori Big Bang. Di mana teori ini menegaskan bahwa eksistensi alam semesta ini berawal dari ledakan besar (Big Bang) lalu lambat laun terbentuk cakrawala seperti saat ini. Di dalam Alquran, peristiwa ini telah disebutkan, yaitu:

(أَوَلَمۡ یَرَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوۤا۟ أَنَّ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقࣰا فَفَتَقۡنَـٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَاۤءِ كُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّۚ أَفَلَا یُؤۡمِنُونَ)
[Surat Al-Anbiya' 30]

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
Ayat ini telah disampaikan jauh sebelum teori Big Bang muncul ke permukaan. Di mana, pada saat itu masih belum ditemukan alat teknologi yang mampu mengungkap awal proses penciptaan manusia. Namun, Alquran selaku pesan Tuhan menyampaikan hal itu kepada manusia. 

Pengertian I'jaz Ilmi dan Contohnya,  Lengkap!

Begitu juga, temuan modern tentang tidak adanya oksigen di luar angkasa juga telah disinyalir oleh Alquran surat al-An'am ayat 125 yang berbunyi:

(فَمَن یُرِدِ ٱللَّهُ أَن یَهۡدِیَهُۥ یَشۡرَحۡ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِۖ وَمَن یُرِدۡ أَن یُضِلَّهُۥ یَجۡعَلۡ صَدۡرَهُۥ ضَیِّقًا حَرَجࣰا كَأَنَّمَا یَصَّعَّدُ فِی ٱلسَّمَاۤءِۚ كَذَ ٰ⁠لِكَ یَجۡعَلُ ٱللَّهُ ٱلرِّجۡسَ عَلَى ٱلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ)
[Surat Al-An'am 125]

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Kata-kata "niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit" ini secara eksplisit menjelaskan bahwa kondisi luar angkasa kosong kurang dari oksigen. Kondisi semacam itu kemudian dijadikan sebagai perumpamaan bagi mereka yang dikehendaki sesat oleh Allah SWT. 

Thursday, 4 July 2019

Cara Memahami Ayat Mutasyabihat Menurut Ahlusunnah Wal Jamaah

Takwil dan Tafwidh: 2 Cara Memahami Ayat Mutasyabihat Menurut Ahlusunnah Wal Jamaah- Di dalam Alquran ada dua jenis ayat yang disebutkan oleh Allah, mulai dari Surat al-Fatihah hingga surat al-Nas, yaitu Ayat Mutasyabihat dan Ayat Muhkamat. Hal ini sudah ditegaskan langsung oleh Allah SWT sebagaimana dalam surat Ali Imron ayat 7 yang berbunyi:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Takwil dan Tafwidh: 2 Cara Memahami Ayat Mutasyabihat Menurut Ahlusunnah Wal Jamaah

Sebetulnya,  ayat mutasyabihat tidak hanya terdapat pada Alquran, ia juga terdapat pada Hadis. Banyak sekali hadis-hadis yang masih remang (ambigu), tidak jelas layaknya ayat mutasyabihat dalam Alquran. Hanya saja,  yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana konsep atau cara Ahlusunnah wal jamaah memahami ayat-ayat mutasyabihat yang sangat samar itu? Apakah harus diartikan secara literal seperti kelompok pengikut Muhammad bin Abdul Wahab (Salafi-Wahabi) atau ada pendekatan lain? 

Secara garis besar, ada dua metode yang diakui Ahlsunnah wal jamaah dalam tata cara memahami ayat atau hadis mutasyabihat, Pertama, Tafwidh adalah memasrahkan sepenuhnya pemahaman ayat mutasyabihat kepada Allah. Ia tidak mau mengartikan apalagi memahami, ia hanya beriman bahwa semua itu datang dari Allah dan pasti benar. Adapun pemahamannya hanya Allah yang tau. Kedua, Takwil. Takwil adalah mengarahkan makna rajih (unggul) kepada makna marjuh (yang diungguli) karena ada dalil yang melatarbelakangi. 

Metode takwil bermuara pada konsep mengembalikan pemahaman ayat mutasyabihat pada pemahaman ayat muhkamat. Artinya,  pemahaman ayat muhkamat yang sudah sangat jelas menjadi acuan dalam memahami ayat mutasyabihat. Oleh karena itu, jika ada ayat mutasyabihat yang secara sepintas tidak sejalan dengan ayat muhkamat maka ayat mutasyabihat itu harus tunduk patuh pada ayat muhkamat dengan melakukan takwil. 

Contoh paling gampang memahami keharusan sebuah takwil sebagai solusi memahami ayat mutasyabihat seperti ayat tentang istiwa'. Sekilas, ayat Istiwa Arrahmanu ala 'Arsy Istawa mengesankan Allah sedang duduk duduk di atas Arys. Namun, dalam Ayat lain disebutkan bahwa Allah ada di mana-mana, Sebagaimana ayat wahuwa ma' akum ainama kuntum. Nah,  yang menjadi pertanyaan besar adalah mana yang benar?  Jika mengikuti ayat Istawa berarti Allah hanya ada di Asry, tapi ayat kedua menyebutkan Allah ada di mana-mana. 

Atas dasar kerancuan semacam ini lah kemudian para ulama melakukan pendekatan takwil agar tidak terjadi kontradiksi antar satu ayat dengan ayat lain.  Semoga bermanfaat. 

Monday, 25 March 2019

Cadar, Budaya Arab atau Wahyu Tuhan?


Cadar, Budaya Arab atau Wahyu Tuhan?Diskursus seputar "cadar" kembali mencuat ke permukaan global semenjak kasus pelarangan cadar oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga terhadap para mahasiswinya. Dalam kasus itu, tampil sosok  agamis yang cukup berpengaruh dan memangku jabatan tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama, lalu dengan lantang menyuarakan bahwa cadar bukan ibadah, bukan pula perintah Agama, cadar tak lebih sekadar fenomena budaya.

Memang, semenjak kepemimpinannya, Nahdhatul Ulama mengalami banyak penyelewengan dan semua fatwa-fatwanya terkesan selalu butuh klarifikasi. Termasuk soal cadar. Tampak sekali, ketinggian ilmunya tak diimbangi dengan nuansa sufistik, sehingga keberadaannya hanya menjadi benalu bagi umat Islam, khususnya warga Nahdhatul Ulama.

Cadar, Budaya Arab atau Wahyu Tuhan?

Menyikapi wacana ini, sebenarnya kita harus mengurai benang historis "cadar" dalam budaya Arab terlebih dahulu. Mengingat, cadar selalu dikait-kaitkan dengannya. Jika kita mau bijak dengan mengaca pada sejarah, potret busana masyarakat Arab pra Islam lebih mirip dengan apa yang kita lihat di Barat saat ini. Mereka tak berbusana layaknya hewan yang tak tau malu, terlebih saat menyembah berhala. Setelah Islam datang, tradisi-tradisi semacam itu dihapus dan diganti dengan tradisi Islam yang bersumber dari wahyu. Hal ini ditandai dengan turunnya ayat hijab kepada umat Islam sebagai respon atas fenomena budaya yang tak terhormat itu.

Tradisi cadar semacam itu terus dijaga dan dirawat oleh umat Islam, bahkan hal itu berlangsung hingga akhir dinasti Usmani. Dan mereka lakukan semua itu atas dasar perintah Agama, bukan karena mengikuti trend budaya yang sedang berkembang.

Oleh karena itu, sangat tidak pas dan terkesan buta sejarah jika harus menganggap cadar sebagai budaya Arab yang tak layak digandrungi oleh masyarakat Islam di bumi Nusantara ini. Lebih-lebih menganggap hal itu bukan perintah Agama.

Referensi:

1. Tsarina Maharani dan Samsdhuha Wildansyah, Ketum PBNU: Cadar Bud2aya Arab, Bukan Perintah Agama, diakses dari https://m.detik.com/news/berita/d-3907550/ketum-pbnu-cadar-budaya-arab-bukan-perintah-agama pada Jumat, 15 Maret 2019.
2. Fakhruddin al-Razi, Mafatihul Ghaib, ( Beirut: Dari al-Fikr), 25/231.
3. Muhammad Zahid al-Kautsari, Maqalat al-Kautsari, (Kairo: Maktabah at-Taufiqiyah, t.t.), 232.

Saturday, 23 February 2019

Zina Muhsan, Begini Hukumannya!

Zina Muhsan, Begini Hukumannya! - Zina merupakan tindakan yang dilarang dalam Islam, bahkan termasuk jejeran maksiat kelas elit (Akbarul kabair) yang harus dijahui oleh setiap Muslim. Sebuah kemaksiatan yang diancam dengan hukuman terberat kelak nanti di akhirat.

Zina akan membawa petaka, tidak hanya bagi para pelakunya yang akan tercoreng dan cenderung dimarginanlkan di tengah-tengah masyarakat, keturunannya pun akan terkena imbas dari perbuatan yang tak pernah ia lakukan. Kenikmatan yang hanya terasa sesaat itu mampu menghilangkan harapan yang selama ini diimpikan. Dunia serasa hampa, tak ada sesuatu yang bisa diharapkan.

Zina Muhsan, Begini Hukumannya!

Allah selalu mewanti-wanti umat manusia agar tidak terjerumus dalam lembah perzinahan, mendekat pun tidak boleh. Allah berfirman dalam Surat al-Isra' ayat 32:

(وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا)

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Dalam ayat ini, Allah melarang umat Islam untuk mendekat pada hal-hal yang mengantarkan pada perzinahan, seperti khalwat, pegangan tangan dll. Sebab, Allah mengetahui bahwa ketika anak Adam sudah mulai terjerat dalam indahnya perantara zina niscaya ia akan terbuai dan akan terus mengikuti hawa nafsunya sehingga ia terjatuh dalam kegelapan zina.

Dalam literatur kajian keislaman, khususnya ilmu fikih, zina dengan meninjau pelakunya terbagi menjadi dua bagian. Pertama, zina muhsan. Kedua, zina ghairu muhsan. Zina muhsan adalah tindakan perzinahan yang dilakukan oleh mereka yang pernah berhubungan intim dalam bingkai pernikahan yang sah. Kebalikan dari hal itu adalah zina ghairu muhsan.

Hukuman bagi zina muhsan lebih berat ketimbang hukuman bagi zina ghairu muhshon. Jika zina ghairu muhsan dihukum dengan cara dicambuk  100 kali dan diasingkan ke tempat yang jauh (seukuran jarak yang bisa dibuat qoshor sholat) maka pelaku zina muhsan harus dirajam sampai mati. Hal ini mengacu pada sebuah ayat yang telah dinasakh bacaannya namun tidak dinasakh hukumnya, yaitu:

الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة نكالاً من الله والله عزيز حكيم»

Ayat di atas tidak termaktub dalam al-Quran (mansukh tilawah) namun kandungan hukumnya tetap dijalankan dalam Islam. Sehingga, meskipun tidak ada ayat rajam dalam al-Quran, para pelaku zina muhsan harus tetap dirajam. Karena yang dinasakh hanya bacaannya saja, tidak pada hukumnya.


Adapun yang dimaksud rajam dalam hal ini adalah mengubur para pelaku zina hingga kepala yang tersisa (tidak terkubur) lalu dilempar dengan batu dengan ukuran sedang (tidak besar tidak pula kecil) sampai meninggal. Tindakan rajam ini hanya berhak dilakukan oleh pemerintah setempat. Semoga bermanfaat!!



Referensi: Sullam at-Taufik

Friday, 15 February 2019

Memahami Arti Ud'uni Astajib Lakum dalam al-Quran

Memahami Arti Ud'uni Astajib Lakum dalam al-Quran- Sejatinya, doa merupakan kebutuhan primer setiap hamba yang harus terpenuhi sebagai asupan rohani. Dengan doa, seorang hamba bisa menjalin komunikasi dengan Tuhan Sang Pencipta sehingga hubungan antar hamba dan Tuhan terjalin rapi dan sempurna.

Dalam al-Quran, Allah mendorong setiap hamba-nya untuk selalu meminta dan memohon apa saja yang ia inginkan dan bahkan Allah berjanji untuk mengabulkannya. Allah berfirman: 

(وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ)

Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. (QS: al-Ghafir:60)
Memahami Arti Ud'uni Astajib Lakum Lebih Dalam

Baca Juga:

Kata " ud'uni astajib lakum ( berdoalah pada-Ku niscaya akan aku kabulkan) " merupakan janji Allah yang pasti dipenuhi, tidak mungkin Allah mengkhianati firman-Nya. Namun, bukan berarti ketika doa yang selama ini kita panjatkan tak kunjung terkabul lantas Allah diklaim sebagai sosok Tuhan yang mengkhianati firman-Nya. Akan tetapi kita harus memahami maksud dan arti dari ud'uni astajib lakum dalam surat al-Ghafir tersebut.

Kata ud'uni dalam tatanan bahasa Arab adalah bentuk fi'il amar (perintah). Sedangkan menjalankan perintah Allah adalah sebuah ibadah. Oleh karena itu ada ungkapan hadis yang berbunyi:

الدعاء مخ العبادة
Doa adalah intisari ibadah.

Dari sini para ulama menegaskan bahwa doa tidak melulu menjadi rangkaian kata-kata permintaan yang hanya dipanjatkan saat butuh. Tapi lebih dari itu, doa merupakan ibadah yang senantiasa harus selalu dijalani dan dilaksanakan sebagai simbol kepatuhan. Bahkan, dalam satu riwayat disebutkan bahwa Allah akan murka pada hamba-hamba yang enggan berdoa kepada-Nya.

Kemudian, kata "astajib lakum", secara ilmu Nahwu merupakan jawaban atas atas kata perintah "ud'uni" yang berada di sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa setiap doa yang dipanjatkan seorang hamba pasti dikabulkan. Dan bahkan Imam Ibnu Athaillah mengatakan, ketika Allah menggerakkan lidah seorang hamba untuk mengucapkan kalimat doa itu pertanda Allah ingin memberikan sesuatu kepada-Nya.

Namun, yang harus dipahami adalah Allah akan memberikan sesuatu yang Ia inginkan bukan yang kita inginkan. Sebab, terkadang apa yang kita pinta itu tidak baik bagi kita dalam pandangan Allah sehingga Allah akan memberikan barang lain yang dianggap lebih baik baginya. Dan Allah akan mengabulkan pada waktu yang Ia inginkan bukan waktu yang kita inginkan. Sebab pada dasarnya Allah akan memberikan sesuatu baik di waktu baik pula bagi kita.

Oleh karena itu, ketika doa yang selama ini kita panjatkan tak kunjung tiba maka pedoman inilah yang harus kita pegang agar kita tidak terjerumus dalam lembah su'ul adab pada Tuhan Sang Pencipta.

Thursday, 31 January 2019

6 Hari Penciptaan Langit dan Bumi dalam al-Quran


6 Hari Penciptaan Langit dan Bumi dalam al-Quran-Proses penciptaan alam semesta tidaklah instan seperti apa yang dibayangkan sebagian umat Islam. Bukan berarti Allah tidak mampu. Namun, agar manusia tahu bahwa di dunia ada proses-proses yang harus dilalui bukan instan langsung jadi. Juga sebagai pelajaran bagi mereka bahwa di dalam menggapai kesuksesan tidak mudah dan butuh proses.
Di dalam Alquran dijelaskan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi selama 6 hari. Dalam Alquran disebutkan:
اِنَّ رَبَّکُمُ اللّٰہُ الَّذِیۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ فِیۡ سِتَّۃِ اَیَّامٍ ثُمَّ اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ ۟ یُغۡشِی الَّیۡلَ النَّہَارَ یَطۡلُبُہٗ حَثِیۡثًا ۙ وَّ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ وَ النُّجُوۡمَ مُسَخَّرٰتٍۭ بِاَمۡرِہٖ ؕ اَلَا لَہُ الۡخَلۡقُ وَ الۡاَمۡرُ ؕ تَبٰرَکَ اللّٰہُ رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Ia beristiwa di atas Arsy. Dia menutupkan malam pada siang dan mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan Semesta Alam.[1]
6 Hari Penciptaan Langit dan Bumi dalam al-Quran
Dalam riwayat-riwayat israiliyat, penciptaan alam semesta dimulai pada hari Ahad dan selesai dengan sempurna pada hari Jumat. dan pada hari jumatlah kejadian-kejadian penting terjadi, seperti penciptaan Nabi Adam dll. Sedangkan hari Sabtu terjadi kekosongan penciptaan. Sebab, ia adalah hari ketujuh sedangkan langit dan bumi diciptakan dalam masa enam hari.[2]
Baca Juga:

Namun, ini sedikit tidak masuk akal. Sebab, hitungan hari semacam ini bisa dimungkinkan apabila telah tercipta matahari. Sedangkan saat itu adalah masa-masa penciptaan alam semesta. Maka sangat tidak logis jika harus memahami enam hari dengan hitungan hari yang berlaku pada manusia seperti saat ini.
Untuk memahami maksud enam hari dalam surat al-A’raf itu maka diperlukan untuk melihat ayat lain yang dianggap senada. Sebab, terkadang penjelasan suatu ayat dapat ditemukan pada ayat lain. Dalam surat al-Hajj Allah SWT sedikit menyinggung tentang berapa lama kata ayyam (hari) yang dimaksud dalam Alquran. Allah berfirman:
 وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ 
Dan mereka meminta kepadamu agar adzab itu disegerakan padahal Allah sekali-kali tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung.[3]
Namun, dalam ayat lain Allah mengatakan bahwa satu hari di sisi-Nya setara dengan lima puluh ribu tahun dalam hitungan manusia. Allah berfirman:
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
Malaikat-malaikat dan jibril naik (mengahadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.[4]
Kedua ayat ini memberikan informasi yang berbeda mengenai kadar lama hari di sisi Allah jika konversikan pada hari-hari dunia. Ayat pertama mengatakan satu hari di sisi Allah setara dengan seribu tahun. Sedangkan Ayat kedua mengatakan setara dengan lima puluh ribu tahun.
Dalam menyikapi hal ini, para ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Mujahid mengaitkan ayat pertama dengan proses masa penciptaan langit dan bumi. Sedangkan ayat kedua  di arahkan pada hari-hari di akhirat kelak. Dengan demikian, menurut mereka sebagaimana dikutib Syekh Wahbah al-Zuhaili, penciptaan langit dan bumi memakan waktu sekitar enam ribu tahun.[5]
Terlepas dari itu, ayat-ayat di atas menginfomasikan bahwa penciptaan langit dan bumi memakan waktu yang sangat lama, tidak instan. Hal ini menunjukkan bahwa proeses penciptaan Alam ini adalah fenomena yang luar biasa dan butuh perenungan lebih dalam agar iman di hati tetap terjaga dan menguat dari hari ke hari.



[1]Alquran, 7:54.
[2] al-Zuhaili, Tafsir al-Munir...,597.
[3] Alquran, 22:47.
[4] Ibid, 70:4.
[5] al-Zuhaili, Tafsir al-Munir...,598.