Monday 15 May 2017

Belajar Akhlak Dari Nabi Musa As

BELAJAR AKHLAK DARI NABI MUSA AS

     Akhlak adalah sebuah cerminan pribadi seseorang, ia akan dipandang memiliki kepribadian yang baik, jika akhlaknya baik, begitu sebaliknya, orang akan beranggapan buruk menilai kepribadian-nya, jika akhlaknya buruk. Nah, untuk mewujudkan akhlak baik perlu kiranya juga memperhatikan hal-hal yang bisa menunjangnya. Salah satunya adalah bersosialisasi dengan teman yang mempunyai akhlak baik.

  Ketika seseorang bertingkah laku –baik atau buruk- maka hal demikian menjadi penentu pada keadaaan tingkah laku siapa yang menjadi sahabatnya, inilah makna yang dikandung dalam kitab Al-Jauharul Maknun, salah satu kitab yang diajarkan di madrasah tsanawiyah di pesantren sidogiri.
Belajar Akhlak Dari Nabi Musa As

    Sejenak mari kita renungkan akhlak seorang nabiyullah musa untuk berguru kepada nabi Hidir, seorang hamba Allah I yang soleh demi memperoleh ilmu-ilmu yang belum beliau ketahui, walaupun beliau (nabi Musa u) adalah seorang nabi utusan Allah SWT. Ketika nabi Musa AS berkata kepada nabi Hidir : قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا    ( Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk)?.


     Imam Rozi di dalam kitab tafsir al- Munir menyebutkan beberapa hikmah yang terkandung di dalam pertanyaan nabi Musa (sebagai murid), pertama menjadikan dirinya (nabi Musa u) untuk selalu ikut pada sang guru kemana beliau pergi, kedua meminta idzin guru terlebih dahulu sebelum memulai belajarnya, kemudian meyakini bahwa dirinya tidak punya pengetahuan (bodoh). Setelah beliau bertanya kemudian nabi Hidir berkata kepadanya : قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا  ( Dia berkata, “ jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkan kepadamu).

    Jawaban nabi Hidir ini sebagai Ta’dib (pembelajaran) serta Irsyadan (petunjuk), bahwa seorang murid diharuskan Tawadu’ serta tidak menyombangkan diri walaupun dirinya adalah seorang nabi Allah Iyang diutus kepada umat. Sekian semoga manfaat
                                                                                                         Ditulis Oleh: Ust.Fajar sodiq


Artikel Terkait


EmoticonEmoticon